Rabu, 11 Februari 2015

脆い Moroi


Kima menatap ujung sepatunya lurus-lurus, kedua tangannya menahan tubuhnya yang semi duduk diatas lapangan rumput. Angin sore yang sepoi-sepoi memainkan anak rambutnya yang tergerai menutupi sebagian wajahnya. Rambut hitam sebahunya dipotong berantakan dengan ujung-ujung rambut yang jadi terlihat meruncing, jika rambutnya cukup lurus untuk itu, pada kenyataannya rambut hitamnya agak ikal sehingga ujung-ujung rambutnya akan memilin mirip per. 

"Hei." Seseorang datang menepuk punggung Kima pelan, saat ia menoleh Koumi, kakaknya, berjongkok sambil menahan roknya yang panjangnya hanya sebatas lutut.
"Ada apa, Onee-chan?" Kima menyahut ketus, wajah murungnya makin ditekuk.
Koumi tersenyum maklum, Kima pasti sedang sangat kesal saat ini. Koumi ikut duduk disamping Kima dan menatap jauh kedepan. "Sudahlah jangan marah, Kawami tidak bermaksud begitu." Koumi menangkap sekilas ekspresi Kima yang nampak kaget.
"Jangan bawa-bawa dia. Ini tak ada urusannya dengan laki-laki itu." Pipi Kima menggembung lucu, ada semburat merah yang menghiasi pipinya.
Koumi kembali tersenyum, ia kemudian menggandeng tangan Kima dan mengajaknya pulang.

Jun Kawami, pemuda paling keren menurut seantero sekolah namun sangat cuek, menyebalkan, dan mempesona untuk Kima Saki. Mereka adalah tetangga sejak kecil, bahkan menurut orang tua mereka, sejak lahir mereka sudah hidup bertetangga. Tujuh belas tahun hidup bertetangga tak bisa membuat mereka akur barang sedetik pun, kecuali Koumi menengahi dan terus berada di sisi Kima. Sedangkan Koumi tak bisa terus menerus menemani Kima karena ia harus pergi ke universitas di kota.

"Hei, Saki-san." Jun Kawami datang menghampiri bangku tempat Kima duduk sambil menekuri buku bacaannya. Kima mendongak, menatap datar pada Jun yang menyeringai lebar melihatnya. Kima mengabaikan pemuda itu dan kembali meneruskan bacaannya. "Hei!" Jun merebut buku di tangan Kima dan kemudian duduk menghadap Kima. Wajahnya berubah ketus dan alisnya nyaris bertaut di tengah.
Kima mendesah pelan, ia mengeluarkan buku lain dari dalam tasnya, berusaha mengabaikan Jun yang terus mencoba mencari perhatian.
"Saki-san!" Jun kembali merebut buku itu, ia berhasil mengusik ketenangan Kima.
"Apa?" ketus Kima sambil membuang pandangannya dari Jun.
"Ini." Jun menyodorkan sesuatu diatas meja. Dua lembar kertas seukuran tiket karcis berwarna biru. "Ayo pergi ke seaworld bersamaku." seringai Jun.
"Tidak mau." tolak Kima mentah-mentah.
"Kau sombong sekali. Harusnya kau bersyukur aku mau mengajakmu pergi. Lihatlah gadis yang berbaris disana, mereka terus berharap aku akan mengajak mereka berkencan. Dan kau yang mendapat kesempatan seperti ini malah menolaknya?" oceh Jun ikut jengkel.
"Kalau begitu berikan saja tiket ini pada mereka!" sentak Kima sambil menyapu tiket diatas mejanya. Kima sangat bersyukur karena untuk pertama kali dalam hidupnya ia tidak sekelas dengan Jun, tetapi entah kenapa mereka terus satu sekolah meski banyak sekolah lain yang mampu dimasuki oleh siswa secerdas Jun. Kima kemudian bangun dari kursinya, ia melangkah cepat menyeruak kerumunan siswi yang sibuk mengagumi Jun. Kima buru-buru turun dari lantai tiga tempat kelasnya berada, ia menuju loker menukar sepatunya dan lari meninggalkan sekolah, ia bahkan sampai memukul penjaga sekolah yang berusaha mencegatnya di gerbang.

Satu nama yang terlintas di kepala Kima. Koumi.

"Kima?" Koumi nampak kaget saat melihat Kima berdiri di depan pintu apartemennya. Wajahnya nampak lusuh dan sedih, Dan yang membuatnya lebih terkejut adalah Kima datang masih dengan seragamnya lengkap tetapi tanpa tasnya. "Apa yang terjadi?" Koumi menarik Kima untuk masuk kedalam rumah.
"Aku tidak tahu, Onee-san. Aku hanya merasa marah pada Jun. Kenapa? Apa aku begitu membencinya?" air mata mulai membasahi wajah pucat Kima. Koumi menarik napas pelan, matanya menatap kasihan pada Kima. Adiknya sangat menyukai Jun, tetapi Jun terus mengabaikannya sejak kanak-kanak. Mungkin itu sebabnya Kima mulai mencoba menarik diri dari Jun.
"Kau masih menyukainya, Kima." Koumi menarik Kima ke dalam pelukannya, membiarkan adiknya menangis sepuasnya. Koumi menyadari sesuatu sejak lama, Jun juga menyukai Kima tetapi entah kenapa bocah laki-laki itu terlalu takut mengungkapkannya. "Dan kalau saja kau tahu bagaimana Jun juga menyukaimu." desah Koumi sepelan mungkin.

Selama beberapa hari Koumi membiarkan Kima tinggal di apartemennya, ia bahkan datang ke sekolah Kima untuk meminta izin untuk tidak mengikuti pelajaran selama beberapa hari. Kadang Koumi merasa kasihan melihat keadaan Kima yang seperti orang depresi. Ia ingat betul bagaimana Kima mengungkapkan perasaannya pada Jun namun kemudian Jun mengumbarnya sebagai bahan olokan. Hal itu jelas membuat Kima syok berat. Dan setelah itu Kima mulai menghindari Jun, meski rumah mereka bersebelahan. Pernah Kima memilih berangkat memutar agar tak melewati jalanan di depan rumah Jun. Tapi itu sudah bertahun-tahun yang lalu, Koumi pikir semua itu sudah berlalu tapi ternyata keadaannya justru makin buruk.

"Tsk! Anak itu, ternyata ia justru mendapat detensi." Koumi melipat surat peringatan ditangannya. Ia berjalan cepat menyusuri koridor. Berusaha agar tidak berpapasan dengan Jun, entah kenapa perasaannya tidak enak jika ia sampai bertemu dengan Jun sekarang.
"Saki-san!" Koumi menoleh, ia melihat Jun berdiri diujung tangga dengan tangan penuh tumpukan buku, matanya menatap Koumi dingin. "Kenapa adikmu tidak berangkat?" Jun mengangkat sebelah alisnya.
"Detensi." Koumi melambaikan kertas surat ditangannya. "Kalian bertengkar lagi?" Koumi melipat kedua tangannya di depan dada.
"Dia yang memulainya. Aku harus pergi sekarang, sampai jumpa." Jun meneruskan langkahnya menuju kelas. Koumi hanya mendesah pelan. Kenapa remaja sekarang begitu rumit? Pikirnya.

Kima bergelung dibalik selimut tebalnya, ia benar-benar merasa tak ingin bangun dari sana. Tapi rasa haus berhasil mengalahkan keteguhannya untuk tetap berbaring hampir selama 13 jam. Ia melangkah pelan menuju dapur, matanya tertumbuk pada secarik kertas yang ditempel dipintu kulkas bersama beberapa lembar uang.
'Jangan lupa makan, meski kau patah hati kau tidak boleh menyakiti tubuhmu sendiri. Di dalam pendingin ada beberapa potong ayam goreng, dan ada nasi di penanak. Cepat bangun dan bersihkan rumah. Koumi.'

Kima menatap kertas itu lama sebelum meraih uang diatasnya kemudian mengambil air minum. Ia berjalan menuju ruang tamu sambil menenggak air minum dalam botol ditangannya. Perasaannya hari ini lebih baik dari pada kemarin lusa. Tapi ia tetap masih belum berminat untuk kembali ke sekolah. Kalau saja orang tuanya masih ada dan termasuk dalam kategori orang berada Kima akan minta agar pindah sekolah. Tapi dengan otak pas-pasan dan uang seadanya begini, bisa sekolah saja ia sudah bersyukur. Kima menatap seisi apartemen kecil ini. Biasanya ia akan kemari saat libur akhir pekan atau saat kakaknya tak bisa pulang. Sekarang ia malah berada disini merasa terasing dan tak tahu harus apa.

"Aku pulang." Koumi membuka pintu depan dengan lesu.
"Selamat datang." perlahan Kima berjalan menyambut kakaknya. Koumi menatap wajah Kima dengan tatapan lelah, tangannya menyerahkan selembar kertas pada Kima. "Detensi?" Kima mengernyit bingung.
Koumi tak menjawab, ia berjalan lunglai menuju dapur dan mengambil sebotol air dingin. Matanya terpaku pada potongan ayam goreng yang masih utuh jumlahnya.
"Kau tidak makan lagi?" Koumi menutup pintu lemari pendingin perlahan. Ia berbalik dan menatap lurus pada Kima yang menatapnya tanpa rasa berdosa. "Terserah kau sajalah." Koumi mengusap rambutnya cepat kemudian pergi menuju kamarnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar