Jumat, 29 Mei 2015

Tentang Sebuah Perkataan



 Tentang Sebuah Perkataan

Tentang sebuah perkataan. “Saat ia meninggalkan sholat, saat itu ia tidak memiliki iman. Saat ia meminum minuman keras saat itu ia tidak memiliki iman. Saat ia berzina, saat itu ia tidak memiliki iman. Saat seseorang melakukan maksiat maka saat itu ia tidak memiliki iman.”
Aku bertanya-tanya pada hatiku, pada diriku, pada jiwaku.  Apakah aku memiliki iman itu? Apakah iman itu? pakah iman itu hanya tentang rasa percaya menggunakan hati, terucap pada lisan, dan tercermin pada tindakan?
Apa yang membedakan iman seorang Islam dengan yang lainnya? Bukankah kita semua akhirnya tetap beriman pada satu Tuhan hanya dnegan bentuk dan nama yang lain? Apakah syahadat itu sebagai pelontaran iman dalam hati. Lalu tindakan seperti apa yang menggambarkan iman itu? Mengapa mukmin hanya ada diantara muslim? Muslim diantara mukmin? Mengapa Ia menciptakan satu iman untuk agama yang berbeda?
Benarkah iman itu benar tertanam dalam hatiku? Terucap di lisanku? Tercermin di tindakanku? Benarkah? Benarkah aku mengimaniNya? Benarkah aku seorang muslim yang mukmin dan mukmin yang muslim?
Benarkah?
Namun benarkah hati ini, sungguh percaya? Benarkah lisan ini bertutur atas iman itu? Benarkah tindak-tanduk raga ini telah mencerminkan iman itu?
Benarkah?
Benarkah sesuci itu diriku, dapat mempercayai keberadaanNya yang ghaib. Merasakan kehadiranNya yang tak tersentuh mata dan indera. Benarkah? Benarkah sehebat itu diriku, wahai, yang hanya seorang manusia. Yang digariskan sebagai tempat tertumpahnya salah dan nista. Segala cela dan keburukan namun juga menyandang kebaikan dan keindahan. Sehebat itukah aku dapat mengenaliMu?
Sehebat itukah aku dapat merasakan hadirMu dalam tiap hela nafasku, dalam tiap langkahku, di setiap bayanganku. Sehebat itukah diriku?
Iman.
Benarkah hatiku menyanjungMu? Memuji dan meninggikanMu. Mengindahkan dan menyucikanMu? Benarkah?
Wahai Tuhanku, Raja segala raja, Pemilik dunia benarkah hatiku terisi denganMu? Adakah lidahku selalu basah menyebut namaMu Allah... Allah... Allah... hingga leleh air mataku terkenang akan betapa kotor dan hinanya aku dihadapanMu.
Aku tak mempertanyakan keberadaanMu. Aku tidak mempertanyakan hal itu. Aku mempertanyakan tentang diriku, keberadaanku di dunia ini. Keberadaanku yang hanya sekilas sja. Hanya sekejap. Yang hanya ada untuk singgah bukan untuk tinggal selamanya disini. Bukan untuk mencecap manisnya kesemuan dunia kemudian tenggelam dalam pahitnya keabadian.
Benarkah tingkah lakuku? Telah benarkah hatiku terpaut padaMu? Lisanku menyebutMu menyanjungMu. Telah benarkah segala tindakanku menunjukkan keimananku padaMu, sudahkah? Sudahkah telingaku dapat mendengar lagi bisikan halusMu, yang memanggilku untuk kembali padaMu, kembali dalam pelukanMu dalam cintaMu yang tak terganti yang tak terbanding.
Tak muakkah EngkauYang Maha Memiliki, menghadapi pengemis ini dihadapanMu. Yang melakukan berbagai cara hanya untuk kehidupan fananya saja, yang mengemis hanya untuk keindahan dunianya saja. Tak muakkah Engkau wahai Yang Maha Sempurna.
Tak bosankah Engkau menatapku yang terus melebur diri dalam dosa bukannya mencambuk diri untuk bertaubat dan menangis memohon ampunanMu sebelum Kau ambil waktuku dari tubuh pinjaman ini?
Tentang sebuah perkataan, tentang peringatan yang diam-diam Kau susupkan ke dalam jiwaku. Menyentuh sukmaku untuk bangun dan membuka mata. Agar aku kembali sadar untuk apa aku ada di dunia. Untuk apa iman ini. Untuk apa setitik nyala api ini Kau jaga dan Kau hidupi.
Ketika malam telah bergulir dan fajar merangkak perlahan di ujungnya. Kau padamkan kegelapan, Kau sematkan cahaya diantara mega-mega. Untuk apa? Untuk menemaniku yang ketakutan? Untuk menjagaku yang sendirian? Begitu Maha Pengasihnya Engkau hingga kau tahan jeruji bumi tetap membawa bumi di peredarannya. Betapa indah tiap cinta yang Kau alirkan dalam sungai-sungai yang mengukir wajah bumi ini. Tapi aku sering tak sesadarnya, sesadarnya, menghancurkan, merusak, meniadakan keindahanMu. Masih pantaskah pengemis ini tersungkur dihadapanMu memohon belas kasihan meminta sedikit berkah?
Pantaskah?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar