Tentang Sebuah Perkataan
Tentang sebuah perkataan. “Saat ia meninggalkan
sholat, saat itu ia tidak memiliki iman. Saat ia meminum minuman keras saat itu
ia tidak memiliki iman. Saat ia berzina, saat itu ia tidak memiliki iman. Saat
seseorang melakukan maksiat maka saat itu ia tidak memiliki iman.”
Aku bertanya-tanya pada hatiku, pada diriku, pada
jiwaku. Apakah aku memiliki iman itu? Apakah
iman itu? pakah iman itu hanya tentang rasa percaya menggunakan hati, terucap
pada lisan, dan tercermin pada tindakan?
Apa yang membedakan iman seorang Islam dengan yang
lainnya? Bukankah kita semua akhirnya tetap beriman pada satu Tuhan hanya
dnegan bentuk dan nama yang lain? Apakah syahadat itu sebagai pelontaran iman
dalam hati. Lalu tindakan seperti apa yang menggambarkan iman itu? Mengapa
mukmin hanya ada diantara muslim? Muslim diantara mukmin? Mengapa Ia
menciptakan satu iman untuk agama yang berbeda?
Benarkah iman itu benar tertanam dalam hatiku?
Terucap di lisanku? Tercermin di tindakanku? Benarkah? Benarkah aku
mengimaniNya? Benarkah aku seorang muslim yang mukmin dan mukmin yang muslim?
Benarkah?
Namun benarkah hati ini, sungguh percaya? Benarkah
lisan ini bertutur atas iman itu? Benarkah tindak-tanduk raga ini telah
mencerminkan iman itu?
Benarkah?
Benarkah sesuci itu diriku, dapat mempercayai
keberadaanNya yang ghaib. Merasakan kehadiranNya yang tak tersentuh mata dan
indera. Benarkah? Benarkah sehebat itu diriku, wahai, yang hanya seorang
manusia. Yang digariskan sebagai tempat tertumpahnya salah dan nista. Segala
cela dan keburukan namun juga menyandang kebaikan dan keindahan. Sehebat itukah
aku dapat mengenaliMu?
Sehebat itukah aku dapat merasakan hadirMu dalam
tiap hela nafasku, dalam tiap langkahku, di setiap bayanganku. Sehebat itukah
diriku?
Iman.
Benarkah hatiku menyanjungMu? Memuji dan
meninggikanMu. Mengindahkan dan menyucikanMu? Benarkah?
Wahai Tuhanku, Raja segala raja, Pemilik dunia
benarkah hatiku terisi denganMu? Adakah lidahku selalu basah menyebut namaMu
Allah... Allah... Allah... hingga leleh air mataku terkenang akan betapa kotor
dan hinanya aku dihadapanMu.
Aku tak mempertanyakan keberadaanMu. Aku tidak
mempertanyakan hal itu. Aku mempertanyakan tentang diriku, keberadaanku di
dunia ini. Keberadaanku yang hanya sekilas sja. Hanya sekejap. Yang hanya ada
untuk singgah bukan untuk tinggal selamanya disini. Bukan untuk mencecap
manisnya kesemuan dunia kemudian tenggelam dalam pahitnya keabadian.
Benarkah tingkah lakuku? Telah benarkah hatiku
terpaut padaMu? Lisanku menyebutMu menyanjungMu. Telah benarkah segala
tindakanku menunjukkan keimananku padaMu, sudahkah? Sudahkah telingaku dapat
mendengar lagi bisikan halusMu, yang memanggilku untuk kembali padaMu, kembali
dalam pelukanMu dalam cintaMu yang tak terganti yang tak terbanding.
Tak muakkah EngkauYang Maha Memiliki, menghadapi
pengemis ini dihadapanMu. Yang melakukan berbagai cara hanya untuk kehidupan
fananya saja, yang mengemis hanya untuk keindahan dunianya saja. Tak muakkah
Engkau wahai Yang Maha Sempurna.
Tak bosankah Engkau menatapku yang terus melebur
diri dalam dosa bukannya mencambuk diri untuk bertaubat dan menangis memohon
ampunanMu sebelum Kau ambil waktuku dari tubuh pinjaman ini?
Tentang sebuah perkataan, tentang peringatan yang
diam-diam Kau susupkan ke dalam jiwaku. Menyentuh sukmaku untuk bangun dan
membuka mata. Agar aku kembali sadar untuk apa aku ada di dunia. Untuk apa iman
ini. Untuk apa setitik nyala api ini Kau jaga dan Kau hidupi.
Ketika malam telah bergulir dan fajar merangkak
perlahan di ujungnya. Kau padamkan kegelapan, Kau sematkan cahaya diantara
mega-mega. Untuk apa? Untuk menemaniku yang ketakutan? Untuk menjagaku yang
sendirian? Begitu Maha Pengasihnya Engkau hingga kau tahan jeruji bumi tetap
membawa bumi di peredarannya. Betapa indah tiap cinta yang Kau alirkan dalam
sungai-sungai yang mengukir wajah bumi ini. Tapi aku sering tak sesadarnya,
sesadarnya, menghancurkan, merusak, meniadakan keindahanMu. Masih pantaskah
pengemis ini tersungkur dihadapanMu memohon belas kasihan meminta sedikit
berkah?
Pantaskah?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar