Jumat, 27 Juli 2012

kisah bayi dan ibunya


Kisah Bayi dan Ibunya


Hari ini aku baru dilahirkan dunia setelah ibuku berjuang keras mengeluarkanku dari gua garbanya yang hangat dan nyaman. Setelah aku di mandikan dan disusui aku di tidurkan di dalam sebuah kotak kaca yang aneh.
 Tiba-tiba ada suara orang yang menangis. “Itu suara apa?” ujarku polos.
 “Itu suara orang dewasa yang menangis,” seseorang berbaju putih dengan wajah bercahaya mengangkatku dari tempat tidur.
“Kenapa? Bukankah hanya bayi yang bisa menangis?” aku memandang wajahnya yang menyenangkan tersenyum padaku.
“Karena mereka manusia dan sebagai manusia mereka punya perasaan.” Aku mengernyit tak mengerti.
“Kenapa jika punya perasaan bisa menangis?” tanyaku ingin tahu lagi.
“Karena perasaan itu sangat halus. Meskipun nanti kau telah dewasa perasaan itu akan terus berwujud bayi, yang tak berdaya dan mudah menangis.” Aku memandangnya.
 ”Tapi apa yang menyebabkan perasaan mereka menangis?” aku menatap wajah orang itu.
 “Mereka di lukai. Mereka kesakitan mereka ingin meminta tolong.” Ujarnya lembut.
“Siapa yang melukai mereka? Mengapa mereka dilukai? Pada siapa mereka meminta tolong?” ujarku sedih.
“Mereka dilukai sesamanya, sesama manusia yang tidak puas pada apa yang dimilikinya sekarang dan terus menginginkan yang lebih banyak. Mereka minta tolong pada yang menciptakan mereka atau pada orang yang masih peduli pada mereka.”
Aku terdiam, mengapa orang dewasa begitu tega pada sesamanya sendiri? Apa hati mereka mati? Atau mereka sudah tidak punya perasaan? “ gumam si bayi.
“Aku tidak mau jadi dewasa, aku hanya mau jadi bayi. Jika perlu aku ingin kembali saja ke dalam gua garba ibuku. Aku tidak perlu mendengar pertengkaran orang-orang dewasa itu!” air mataku meleleh.
“Nak, dengarkan aku. Masih ada yang memerlukanmu, dan manusia yang berperasaan itu masih banyak. Ingatlah untuk selalu menghargai perasaan orang lain. Jangan hanya memikirkan perasaanmu sendiri, kasihanilah orang yang tak mampu yang ada disekelilingmu.” Orang itu mengusap air mataku.
Tiba-tiba aku merasa gelisah ada sesuatu yang menggangguku. “Kenapa aku harus peduli? Padahal banyak orang dewasa yang tidak peduli pada sesamanya?”protesku.  Orang itu tersenyum sebelum menjawab, “Karena bayi sepertimu hatinya masih polos, masih bersih. Jangan kau kotori hatimu yang putih dengan ketidakpedulian dan kebencian seperti para orang dewasa. Sekarang tidurlah dan ingatlah untuk selalu menjadi orang yang peduli,” orang itu membelai pelupuk mataku. “Baiklah,” ujarku sambil menguap. “Tapi ada satu pertanyaaan lagi.” Orang itu mendengarkan dengan sabar, “Apa?” aku mengulet di balik bedongku yang hangat, “Siapa Anda?” ujarku langsung terlelap dalam gendongan, sekilas aku mendengarnya berkata. “Aku ibumu.”
_TAMAT_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar