Kisah
Bayi dan Ibunya
Hari ini aku baru dilahirkan dunia
setelah ibuku berjuang keras mengeluarkanku dari gua garbanya yang hangat dan
nyaman. Setelah aku di mandikan dan disusui aku di tidurkan di dalam sebuah
kotak kaca yang aneh.
Tiba-tiba ada suara orang yang menangis. “Itu
suara apa?” ujarku polos.
“Itu suara orang dewasa yang menangis,”
seseorang berbaju putih dengan wajah bercahaya mengangkatku dari tempat tidur.
“Kenapa? Bukankah hanya bayi yang
bisa menangis?” aku memandang wajahnya yang menyenangkan tersenyum padaku.
“Karena mereka manusia dan sebagai
manusia mereka punya perasaan.” Aku mengernyit tak mengerti.
“Kenapa jika punya perasaan bisa
menangis?” tanyaku ingin tahu lagi.
“Karena perasaan itu sangat halus.
Meskipun nanti kau telah dewasa perasaan itu akan terus berwujud bayi, yang tak
berdaya dan mudah menangis.” Aku memandangnya.
”Tapi apa yang menyebabkan perasaan mereka
menangis?” aku menatap wajah orang itu.
“Mereka di lukai. Mereka kesakitan mereka
ingin meminta tolong.” Ujarnya lembut.
“Siapa yang melukai mereka? Mengapa
mereka dilukai? Pada siapa mereka meminta tolong?” ujarku sedih.
“Mereka dilukai sesamanya, sesama
manusia yang tidak puas pada apa yang dimilikinya sekarang dan terus
menginginkan yang lebih banyak. Mereka minta tolong pada yang menciptakan
mereka atau pada orang yang masih peduli pada mereka.”
Aku terdiam, mengapa orang dewasa
begitu tega pada sesamanya sendiri? Apa hati mereka mati? Atau mereka sudah
tidak punya perasaan? “ gumam si bayi.
“Aku tidak mau jadi dewasa, aku
hanya mau jadi bayi. Jika perlu aku ingin kembali saja ke dalam gua garba
ibuku. Aku tidak perlu mendengar pertengkaran orang-orang dewasa itu!” air
mataku meleleh.
“Nak, dengarkan aku. Masih ada yang memerlukanmu, dan manusia yang berperasaan itu masih banyak. Ingatlah untuk selalu menghargai perasaan orang lain. Jangan hanya memikirkan perasaanmu sendiri, kasihanilah orang yang tak mampu yang ada disekelilingmu.” Orang itu mengusap air mataku.
“Nak, dengarkan aku. Masih ada yang memerlukanmu, dan manusia yang berperasaan itu masih banyak. Ingatlah untuk selalu menghargai perasaan orang lain. Jangan hanya memikirkan perasaanmu sendiri, kasihanilah orang yang tak mampu yang ada disekelilingmu.” Orang itu mengusap air mataku.
Tiba-tiba aku merasa gelisah ada
sesuatu yang menggangguku. “Kenapa aku harus peduli? Padahal banyak orang dewasa
yang tidak peduli pada sesamanya?”protesku. Orang itu tersenyum sebelum menjawab, “Karena
bayi sepertimu hatinya masih polos, masih bersih. Jangan kau kotori hatimu yang
putih dengan ketidakpedulian dan kebencian seperti para orang dewasa. Sekarang
tidurlah dan ingatlah untuk selalu menjadi orang yang peduli,” orang itu
membelai pelupuk mataku. “Baiklah,” ujarku sambil menguap. “Tapi ada satu
pertanyaaan lagi.” Orang itu mendengarkan dengan sabar, “Apa?” aku mengulet di
balik bedongku yang hangat, “Siapa Anda?” ujarku langsung terlelap dalam
gendongan, sekilas aku mendengarnya berkata. “Aku ibumu.”
_TAMAT_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar