*cerita ini terjadi karena tuntutan seorang guru pada murid dengan tema ~yang nggak tau
gimana~ jadi saya harap anda maklum
Cicak-Man Sang Ojek Terbang
To the point aja gue mau cerita sesuatu sama kalian. Terserah
kalian mau ketawa, nangis, bengong ato gimana. Emang rada memalukan
sih, apa lagi gue ini turunan superhero yang keren. Tapi gue nggak
nyangka kalo gue malah jadi gini. Mending kalo jadi mister cat atau
wonder boy. Dua makhluk itu ke-heroan-nya paling nggak masih bisa di
pertanggung jawabkan. Nah gue? Modal nemplok di dinding sambil
melet-melet kalo kepepet gue mutusin ekor . Haduh emak babeh kenapa
nggak kalian bagi keheroan kalian yang lebih keren sih?
“Booooyyy!!! Bangun napa??? Itu alarm lu bunyi mulu!!!” pagi-pagi
sekali ibuku sudah teriak-teriak. “Iya, Ma. Aku udah bangun!” kumatikan
alarm detektor kejahatan sialan itu. “Jam tiga pagi udah bikin rusuh
mau lu ape sih?” ku banting alarm karet itu. Bukannya remuk alarm itu
malah memantul dan menubruk bibirku yang seksi, “Wadaaaoo. Dasar
sialan!!! Alarm busuk!!!” umpatku sambil melompat keluar dari kamar.
Keahlian sampinganku, selain menclok, melet dan mutusin buntut, adalah
terbang. Aku harus mempelajarinya sejak di brojolkan didunia. Dan
sekarang , malah di manfaatkan emak sebagai ojek terbang gratis. Tak
seperti adik-adikku yang lahir murni sebagai superhero, dengan bantuan
radiasi infra merah babeh, nasibku jadi paling ancur.
“Lontooong lontooong....!” kebetulan ada tukang lontong gue lagi
laper berat. Setelah menemukan pohon yang tepat gue menclok. “Bang
lontongnya dong satu, bumbunya banyakin!” si tukang lontong melongo.
“Woi, Bang pesen lontongnya satu!” ku towel pundak si abang dengan
lidah panjangku. Saat menoleh si abang langsung histeris dan kabur,
“Waa setaaaaannn!!!!” ujarnya sambil melempar beberapa lontong.
“GABRUGH!” aku terjatuh dari pohon saat menangkap lontong-lontong
terbang itu. “Bang masa lontongnye doang? Bumbunya mana???” jeritku.
Setelah puas ngemil lontong tanpa bumbu, aku meneruskan perjalanan.
“Cicak-cicak di jalan diam-diam kuterbang. Terbang mencari makan.
Hap! Dapet lontong mentahan....cicak-cicak di tembok diam-diam
ngerampok datanglah sang cicak-man!!! Rampok di tangkap....”sambil
terbang gue bernyanyi lagu kebangsaan gue. “Tolooong-toloong ada garong
nyolong!!! Ngumpet di kolong gue di todong...tolooong!”seseorang
menyambut nyanyianku dengan menangis? Eh salah bernyanyi juga. “Hei
kamu! Jangan macem-macem di sini. Ini wilayah gue!” aku mendarat dengan
gaya keren seorang super hero alias njiplak gaya bokap yang setengah
batman yang setengah fantastic four lagi turun dari odong-odong. Dan
setelah itu terjadi dialog sebagai berikut:
Garong : “HEH! Makhluk apaan lu?”{nodongin pisau dapur} Gue :
“gue super hero tau! Nggak liat seragam gue?”{membusungkan dada sambil
goyangin buntut} Garong : “Superhero apaan? Muka lu kayak kadal
bunting!”
“JGEEERRR!!!!” hatiku hancur berantakan. Satu lagi hinaan gue
dapet saat mau nolong orang, KADAL BUNTING! Aaaarrrrghhh!!! Gue mengaum
bagai singamencakarbagaikucingmenendangalakanguru, tanpa babibubebo
sang garong langsung tepar di tempat berikut korbannya. “Jangan
bergerak!” tak lama polisi datang dan langsung menyergap, “Wah, Bapak
terlambat. Rampoknya baru aja saya taklukin!” ujarku bangga tapi si
polisi malah mengacungkan pistolnya padaku. “Angkat tangan atau saya
tembak!” aku melongo. “Pak tapi saya itu super hero! Nggak mungkin saya
yang ngerampok. Liatlah tampang kyut saya ini. Nggak liat saya mirip
Song Joong Ki?” aku masih ngotot. Tapi semua polisi yang datang malah
mengepungku. “Anda sebaiknya ikut kami sekarang!” aku mundur. Tapi di
cegat polisi di belakangku, aku maju di cegat yang di depan, geser kiri
juga di cegat, kekanan juga di cegat satu-satunya jalan aku melompat
terbang. Diiringi tembakan beruntun di udara yang membuat buntutku
lepas.
Siang harinya ada berita mengenai cicak-man yang malu-maluin.
“Polisi hampir menangkap perusuh dengan kostum seperti cicak, yang
mengaku sebagai seorang super hero jadi-jadian. Namun sayangnya si
pelaku lolos dan hanya meninggalkan ekor yang sekarang sedang di teliti
di pusat penelitian,” seluruh keluargaku memandangku sinis, “Boy, payah
sekali kamu. Nolong orang malah dikira nodong. Gimana sih?” gerutu
Mamaku. Aku mendengus kesal, “Udah lah, Ma. Aku pensiun jadi super
hero. Mending jadi tukang ojek, tukang ojek terbang!” ujarku sambil
membanting pintu.
_TAMAT_
Nb: maaf kalo nggak lucu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar