Jumat, 17 Agustus 2012

CICAX-MAN

*cerita ini terjadi karena tuntutan seorang guru pada murid dengan tema ~yang nggak tau
gimana~ jadi saya harap anda maklum

Cicak-Man Sang Ojek Terbang

To the point aja gue mau cerita sesuatu sama kalian. Terserah kalian mau ketawa, nangis, bengong ato gimana. Emang rada memalukan sih, apa lagi gue ini turunan superhero yang keren. Tapi gue nggak nyangka kalo gue malah jadi gini. Mending kalo jadi mister cat atau wonder boy. Dua makhluk itu ke-heroan-nya paling nggak masih bisa di pertanggung jawabkan. Nah gue? Modal nemplok di dinding sambil melet-melet kalo kepepet gue mutusin ekor . Haduh emak babeh kenapa nggak kalian bagi keheroan kalian yang lebih keren sih?
“Booooyyy!!! Bangun napa??? Itu alarm lu bunyi mulu!!!” pagi-pagi sekali ibuku sudah teriak-teriak. “Iya, Ma. Aku udah bangun!” kumatikan alarm detektor kejahatan sialan itu. “Jam tiga pagi udah bikin rusuh mau lu ape sih?” ku banting alarm karet itu. Bukannya remuk alarm itu malah memantul dan menubruk bibirku yang seksi, “Wadaaaoo. Dasar sialan!!! Alarm busuk!!!” umpatku sambil melompat keluar dari kamar. Keahlian sampinganku, selain menclok, melet dan mutusin buntut, adalah terbang. Aku harus mempelajarinya sejak di brojolkan didunia. Dan sekarang , malah di manfaatkan emak sebagai ojek terbang gratis. Tak seperti adik-adikku yang lahir murni sebagai superhero, dengan bantuan radiasi infra merah babeh, nasibku jadi paling ancur.
“Lontooong lontooong....!” kebetulan ada tukang lontong gue lagi laper berat. Setelah menemukan pohon yang tepat gue menclok. “Bang lontongnya dong satu, bumbunya banyakin!” si tukang lontong melongo. “Woi, Bang pesen lontongnya satu!” ku towel pundak si abang dengan lidah panjangku. Saat menoleh si abang langsung histeris dan kabur, “Waa setaaaaannn!!!!” ujarnya sambil melempar beberapa lontong. “GABRUGH!” aku terjatuh dari pohon saat menangkap lontong-lontong terbang itu. “Bang masa lontongnye doang? Bumbunya mana???” jeritku. Setelah puas ngemil lontong tanpa bumbu, aku meneruskan perjalanan.
“Cicak-cicak di jalan diam-diam kuterbang. Terbang mencari makan. Hap! Dapet lontong mentahan....cicak-cicak di tembok diam-diam ngerampok datanglah sang cicak-man!!! Rampok di tangkap....”sambil terbang gue bernyanyi lagu kebangsaan gue. “Tolooong-toloong ada garong nyolong!!! Ngumpet di kolong gue di todong...tolooong!”seseorang menyambut nyanyianku dengan menangis? Eh salah bernyanyi juga. “Hei kamu! Jangan macem-macem di sini. Ini wilayah gue!” aku mendarat dengan gaya keren seorang super hero alias njiplak gaya bokap yang setengah batman yang setengah fantastic four lagi turun dari odong-odong. Dan setelah itu terjadi dialog sebagai berikut:
Garong : “HEH! Makhluk apaan lu?”{nodongin pisau dapur} Gue : “gue super hero tau! Nggak liat seragam gue?”{membusungkan dada sambil goyangin buntut} Garong : “Superhero apaan? Muka lu kayak kadal bunting!”
“JGEEERRR!!!!” hatiku hancur berantakan. Satu lagi hinaan gue dapet saat mau nolong orang, KADAL BUNTING! Aaaarrrrghhh!!! Gue mengaum bagai singamencakarbagaikucingmenendangalakanguru, tanpa babibubebo sang garong langsung tepar di tempat berikut korbannya. “Jangan bergerak!” tak lama polisi datang dan langsung menyergap, “Wah, Bapak terlambat. Rampoknya baru aja saya taklukin!” ujarku bangga tapi si polisi malah mengacungkan pistolnya padaku. “Angkat tangan atau saya tembak!” aku melongo. “Pak tapi saya itu super hero! Nggak mungkin saya yang ngerampok. Liatlah tampang kyut saya ini. Nggak liat saya mirip Song Joong Ki?” aku masih ngotot. Tapi semua polisi yang datang malah mengepungku. “Anda sebaiknya ikut kami sekarang!” aku mundur. Tapi di cegat polisi di belakangku, aku maju di cegat yang di depan, geser kiri juga di cegat, kekanan juga di cegat satu-satunya jalan aku melompat terbang. Diiringi tembakan beruntun di udara yang membuat buntutku lepas.
Siang harinya ada berita mengenai cicak-man yang malu-maluin. “Polisi hampir menangkap perusuh dengan kostum seperti cicak, yang mengaku sebagai seorang super hero jadi-jadian. Namun sayangnya si pelaku lolos dan hanya meninggalkan ekor yang sekarang sedang di teliti di pusat penelitian,” seluruh keluargaku memandangku sinis, “Boy, payah sekali kamu. Nolong orang malah dikira nodong. Gimana sih?” gerutu Mamaku. Aku mendengus kesal, “Udah lah, Ma. Aku pensiun jadi super hero. Mending jadi tukang ojek, tukang ojek terbang!” ujarku sambil membanting pintu.


_TAMAT_


Nb: maaf kalo nggak lucu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar